F-GMA : Serahkan Saja Posisi Wali Nanggroe Pada Ulama

BANDA ACEH | AP – Front Gerakan Marwah Atjeh (F-GMA) mendesak Gubernur Aceh untuk meninjau ulang Qanun Wali Nanggroe dan Pihaknya mempertanyakan atas dasar apa sehingga Malik Mahmud menjadi Wali Nanggroe Aceh kesembilan.

“Dia bukan ulama dan juga bukan keturunan raja Aceh apalagi keturunan Tgk Chiek Ditiro,” ujar Tgk Sufaini Usman Syekhy dalam jumpa pers, di Haba Kupi, Lampriet, Banda Aceh, Senin, (22/1/2018).

Menurut eks kombatan ini, Malik Mahmud tak layak jadi Wali Nanggroe Aceh sebab, selain bukan keturunan langsung Wali Nanggroe Tgk Hasan Tiro, kinerjanya sebagai Wali Nanggroe juga tidak jelas.

“Selama 5 tahun lebih tidak berfungsi secara baik dalam mengangkat harkat martabat bangsa Aceh secara bermarwah dan juga tidak menjadi sosok panutan bangsa Aceh secara menyeluruh,” tambahnya.

Ditambahkannya, pihak F-GMA mendesak Gubernur Aceh, Irwandi Yusuf untuk meninjau ulang dan merevisi Qanun Wali Nanggroe Aceh tentang tata cara pemilihan Wali Nanggroe Aceh dan diserahkan kepada yang layak dan pantas.

“Serahkan saja posisi Wali Nanggroe kepada ulama, jangan lagi kepada Malik Mahmud,” pungkasnya

Selain itu F-GMA juga mengajak rakyat untuk tidak memilih kembali anggota legislatif yang menjabat saat ini untuk pemilhan legislatif tahun 2019 nanti. karena, menurut F-GMA, anggota DPRA dan DPRK yang sekarang hanya mementingkan kepentingan pribadi dan keluarganya, tidak mendukung kepentingan rakyat.

“Selama ini DPRA sibuk memainkan isu bendera Aceh saat menjelang masa Pemilu bukan memikirkan bagaimana mensejahterakan rakyat, maka kami minta DPRA dan Pemerintah Aceh segera menghentikan polimik bendera Bintang Bulan yang selalu jadi konsumsi politik,” tegasnya.

Untuk itu, dia mendesak supaya bendera Bintang Bulan digantikan saja dengan bendera Alam Peudeueng sebagai bendera lambang Aceh dan meminta Pemerintah Aceh untuk mensosialisasikan tentang perdamaian Aceh ke dalam masyarakat Aceh dan khususnya kepada kombatan GAM secara transparan

“Rakyat jangan lagi dibodohin oleh pihak tidak jelas yang hanya membuat rakyat sengsara,” tutupnya. [Said Siful]

Redaksi Press

"Kurang cerdas dapat diperbaiki dengan belajar, kurang cakap dapat dihilangkan dengan pengalaman. Namun tidak jujur sulit diperbaiki," (MH)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *