FMP2A : Rakyat Aceh Tak Suka Pasukan BKO

Humas Forum Mahasiswa Pemuda Perjuangan Aceh (FMP2A) Rizki Aloy. Foto: Ist
Humas Forum Mahasiswa Pemuda Perjuangan Aceh (FMP2A) Rizki Aloy. Foto: Ist

Lhokseumawe | AP-Menjelang pemilihan kepala daerah (Pilkada) 2017 mulai timbul polemik di kalangan masyarakat Aceh, karena ada segelintir pihak yang meminta untuk mendatangkan penambahan Pasukan Bawah Kendali Operasi (BKO), guna mengamankan pemihan umum kepala daerah.

Kondisi tersebut membuat aktivis kembali angkat bicara, kali ini Humas Forum Mahasiswa Pemuda Perjuangan Aceh (FMP2A) Rizki Aloy secara terang-terangan menolak wacana penambahan personil aparat keamanan BKO di Aceh.

Rizki Alo, . Selasa (17/09/16) menyebutkan, untuk saat ini melihat kondisi Rakyat Aceh, seharusnya pemerintah lebih peka dan sadar apa yang sebaliknya dibutuhkan oleh masyarakat.

“Maka karena itu ia menekankan, pemerintah lebih cerdas untuk memikirkan nasib Aceh pasca damai, 11 (sebelas) tahun yang lalu, apa harapan masyarakat Aceh sekarang, apakah penambahan BKO atau kesejahteran oleh mereka,” ujarnya.

Dia mengingatkan, jangan gara-gara kepentingan penguasa dapat menyebabkan rusaknya situasi dan kondisi Aceh yang sedang kondusif. Dia juga berharap kepada Pemerintah Aceh untuk berpikir jernih dan melihat lebih jeli efek yang akan terjadi nanti jika tentara BKO didatangkan lagi ke Aceh.

“Beda realita yang akan terjadi di lapangan dengan pemikiran kita, bukan malah menciptakan ketentraman dan kedamain tapi akan menimbulkan konflik baru di Aceh, jangan sampai pertumpahan darah terulang kembali di Aceh hanya gara-gara kepentingan sekelompok golongan untuk mencapai kekuasaan,” ingatnya.

Seharusnya kata dia, Pemerintah Aceh lebih bersinergi dan bersama-sama hari ini untuk meminta kepada Pemerintah Pusat agar semua butir-butir perjanjian Mou Helsinki terealisasi secepatnya,agar, masyarakat Aceh bisa merasakan kesejahteraan, bukan malah BKO yang ingin didatangkan kembali ke Aceh.

“Kita meminta kepada semua pihak dan calon kepala daerah agar berfikir positif dan sama-sama menjaga kondisi perdamain Aceh serta semua tim pemenangan untuk bisa bersikap profesional dan tidak saling menjelek-jelekan atau mengintimidasi calon lain, agar terjadinya Pilkada aman tenteram, sehingga perdamain di Aceh terjaga dengan baik,” ujarnya.

Dia juga menyindir Perilaku Pemerintahan di Aceh selama ini yang hanya pandai bersandiwara dan menipu rakyatnya saja.

“Sudah cukup pemerintah Aceh bersandiwara selama 11 tahun, dan saatnya sekarang membangun dan menata kembali Aceh seperti dahulu kala, agar semua rakyat Aceh bisa merasakan kesejahtraan dan kemakmuran yang telah lama hilang,”

“Bek gadoeh peugah sibak rukok teuk sabe, (jangan selalu ucapkan sebatang rokok terus).” harapnya diakhir pers rilis. (rel)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *