Implementasi Revolusi Mental Dalam Pendidikan

Implementasi Revolusi Mental Dalam Pendidikan

Oleh: Iswadi, M.Pd

Makna Revolusi Mental  sebenarnya inti revolusi mental? Jawabnya: Perubahan secara cepat dari manusia biasa menjadi manusia hebat. Untuk menjadi hebat, manusia harus berani melakukan perubahan. Filosofi ini bisa dilihat dari seekor ulat yang berubah menjadi kupu-kupu. Saat masih menjadi ulat orang jijik untuk memegangnya, bahkan berusaha menjauhinya. Namun, ketika sudah menjadi kupu-kupu, dengan bentuk warna yang indah ditubuhnya, orang akan senang memandangnya. Manusia hebat adalah manusia yang mengenal dirinya, mengenal lawannya dan menguasai medan (lapangan). Jika ini bisa dikuasai, otomatis manusia itu memiliki power full leadership.

Manusia hebat itu adalah yang sehat rohani (hidup bahagia) dan jasmaninya (hidup sehat). Sehat ekonomi (hidup makmur), memiliki generasi penerus yang makin hebat (pintar, kreatif, dan budi pekerti). Pada masa tua, orang tua makin bermanfaat, baik untuk oranglain, lingkungan dan bangsanya.

Revolusi mental yang digelorakan ini adalah upaya untuk menyempurnakan karakter bangsa dan budi pekerti yang luhur : bagaimana caranya?, Yakni melalui pendidikan, inilah yang menjadi fokus utama Jokowi. Karna seluruh permasalahan di negara ini bersumber pada mental yang menyimpang dan tidak lagi merujuk pada norma-norma ke Indonesiaan yang ber budaya.

Dalam sebuah kesempatan Jokowi menyampaikan bahwa sistem pendidikan yang di terapkan di Indonesia saat ini masih menerapkan model indoktrinasi. Akibatnya kreativitas siswa sejak dini tertutup oleh sistem pendidikan indoktrinasi tersebut. Karena itu di harapkan ada penerapan kurikulum pendidikan yang berbasis moralitas dan intelektualitas, dengan komposisi sebagai berikut :

1. Pada level pendidikan dasar (Sekolah Dasar), kurikulum yang diterapkan adalah 80% kurikulum moral, dan 20% kurikulum ilmu pengetahuan. Penerapan komposisi kurikulum moral ini lebih dominan untuk membentuk karakter siswa yang memiliki budi pekerti luhur sebagai fondasi untuk berperilaku dalam kehidupan.
2. Pada level menengah pertama (SMP) kurikulum yang akan diterapkan adalah 60% kurikulum moral, dan 40% kurikulum ilmu pengetahuan. Penerapan antar komposisi kurikulum ini hampir seimbang mengingat dalam kondisi ini siswa sedang mengalami masa transisi atau peralihan dari anak menuju remaja dan sedikit demi sedikit sudah dapat mengambil kesimpulan tentang nilai moral baik atau buruk. Dengan komposisi ini kemampuan intelektual berbasis pada moralitas yang kuat.
3. Pada level pendidikan menengah atas (SMA) dan sederajat, kurikulum yang akan diterapkan adalah 20% kurikulum moral, dan 80% kurikulum ilmu pengetahuan. Pada mas ini seorang anak dianggap sudah dapat memiliki kemampuan moral yang matang dan sudah siap menerima komposisi ilmu pengetahuan yang lebih besar dengan mental yang sudah terfondasi sejak dini.
Jokowi mengharapkan dari komposisi kurikulum tersebut sumber daya manusia (SDM) yang lahir akan semakin bermartabat dan memiliki daya saing di berbagai belahan dunia.

Pembangunan infrastruktur pendidikan tersebut harus dilakukan dengan tujuan untuk menyesuaikan antara kebutuhan dan harapan masyarakat dengan SDM yang tersedia dari dunia pendidikan. Sehingga semuanya dapat berjalan dengan sinergi antara ekonomi, sosial, budaya dan ilmu pengetahuan.

Pendidikan ini adalah dari kehidupan berbangsa dan bernegara. Jika ini tidak segera di mulai, nasib anak-anak bangsa semakin mengkhawatirkan. Banyak kasus terkait moral anak-anak sekolah. Tawuran pelajar, mabuk-mabukan, seks bebas dan masih banyak lainnya. Tentu ini sangat memperhatinkan. Sebab, mereka adalah calon pemimpin bangsa ini. Namun, dengan moral dan mental seperti itu, mampukah mereka berkompetisi dalam persaingan global.

Revolusi mental dan Pendidikan

Karakter adalah jawaban mutlak untuk menciptakan kehidupan yang lebih baik didalam masyarakat. Karakter merupakan nilai-nilai perilaku manusia yang berhubungan dengan Tuhan Yang Maha Esa, diri sendiri, sesama manusia, lingkungan, dan kebangsaan yang terwujud dalam pikiran, sikap, perasaan, perkataan, dan perbuatan berdasarkan norma-norma agama, hukum, tata krama,budaya,danadatistiadat.

Pendidikan karakter adalah suatu sistem penanaman nilai-nilai karakter kepada warga sekolah yang meliputi komponen pengetahuan, kesadaran atau kemauan, dan tindakan untuk melaksanakan nilai-nilai tersebut, baik terhadap Tuhan Yang Maha Esa (YME), diri sendiri, sesama, lingkungan, maupun kebangsaan sehingga menjadi manusia insan kamil. Dalam pendidikan karakter di sekolah, semua komponen (stakeholders) harus dilibatkan, termasuk komponen-komponen pendidikan itu sendiri, yaitu isi kurikulum, proses pembelajaran dan penilaian, kualitas hubungan, penanganan atau pengelolaan mata pelajaran, pengelolaan sekolah, pelaksanaan aktivitas atau kegiatan ko-kurikuler, pemberdayaansarana,prasarana,dan,pembiayaan,dan,ethoskerjaseluruhwargadanlingkungansekolah. “Pendidikan karakter yang utuh dan menyeluruh tidak sekedar membentuk anak-anak muda menjadi pribadi yang cerdas dan baik, melainkan juga membentuk mereka menjadi pelaku baik bagi perubahan dalam hidupnya sendiri, yang pada gilirannya akan menyumbangkan perubahan dalam tatanan sosial kemasyarakatan menjadi lebih adil, baik, dan manusiawi.”(Doni Koesoema A.Ed)

Perbedaan Karakter dengan Kepribadian.

Kepribadian adalah hadiah dari Tuhan Sang Pencipta saat manusia dilahirkan dan setiap orang yang memiliki kepribadian pasti ada kelemahannya dan kelebihannya di aspek kehidupan sosial dan masing-masing pribadi. Kepribadian manusia secara umum ada 4, yaitu :

a. Koleris : tipe ini bercirikan pribadi yang suka kemandirian, tegas, berapi-api, suka tantangan, bos atas dirinya sendiri.
b. Sanguinis : tipe ini bercirikan suka dengan hal praktis, happy dan ceria selalu, suka kejutan, suka sekali dengan kegiatan social dan bersenang-senang.
c. Phlegmatis : tipe ini bercirikan suka bekerjasama, menghindari konflik, tidak suka perubahan mendadak, teman bicara yang enak, menyukai hal yang pasti.
d. Melankolis : tipe ini bercirikan suka dengan hal detil, menyimpan kemarahan, Perfection, suka instruksi yang jelas, kegiatan rutin sangat disukai.

Saat setiap manusia belajar untuk mengatasi dan memperbaiki kelemahannya, serta memunculkan kebiasaan positif yang baru, inilah yang disebut dengan Karakter. Misalnya, seorang dengan kepribadian Sanguin yang sangat suka bercanda dan terkesan tidak serius, lalu sadar dan belajar sehingga mampu membawa dirinya untuk bersikap serius dalam situasi yang membutuhkan ketenangan dan perhatian fokus, itulah Karakter. Pendidikan Karakter adalah pemberian pandangan mengenai berbagai jenis nilai hidup, seperti kejujuran, kecerdasan, kepedulian dan lain-lainnya. Dan itu adalah pilihan dari masing-masing individu yang perlu dikembangkan dan perlu di bina, sejak usia dini(idealnya).

Karakter tidak bisa diwariskan, karakter tidak bisa dibeli dan karakter tidak bisa ditukar. Karakter harus dibangun dan dikembangkan secara sadar hari demi hari dengan melalui suatuproses yang tidak instan. Karakter bukanlah sesuatu bawaan sejak lahir yang tidak dapat diubah lagi seperti sidik jari.Banyak kami perhatikan bahwa orang-orang dengan karakter buruk cenderung mempersalahkan keadaan mereka. Mereka sering menyatakan bahwa cara mereka dibesarkan yang salah, kesulitan keuangan, perlakuan orang lain atau kondisi lainnya yang menjadikan mereka seperti sekarang ini. Memang benar bahwa dalam kehidupan, kita harus menghadapi banyak hal di luar kendali kita, namun karakter Anda tidaklah demikian. Karakter Anda selalu merupakan hasil pilihan Anda.Ketahuilah bahwa Anda mempunyai potensi untuk menjadi seorang pribadi yang berkarakter, upayakanlah itu. Karakter, lebih dari apapun dan akan menjadikan Anda seorang pribadi yang memilikinilai tambah. Karakter akan melindungi segala sesuatu yang Anda hargai dalam kehidupan ini.Setiap orang bertanggung jawab atas karakternya. Anda memiliki kontrol penuh atas karakter Anda, artinya Anda tidak dapat menyalahkan orang lain atas karakter Anda yang buruk karena Anda yang bertanggung jawab penuh. Mengembangkan karakter adalah tanggung jawab pribadi Anda.

Contoh Program Pendidikan karakter.

Terkait dengan program pendidikan karakter disekolah, bagaimana menjalankan dan melaksanakan pendidikan karakter disekolah, serta bagaimana cara menyusun program dan melaksanakannya, dari gagasan ke tindakan.

Program ini membekali dan memberikan wawasan pada guru tentang psikologi anak, cara mendidik anak dengan memahami mekanisme pikiran anak dan 3 faktor kunci untuk menciptakan anak sukses, serta kiat praktis dalam memahami dan mengatasi anak yang “bermasalah” dengan perilakunya.

Program Bimbingan Mental, Program ini terbagi menjadi dua sesi program :

Sesi Workshop Therapy, yang dirancang khusus untuk siswa usia 12 -18 tahun. Workshop ini bertujuan mengubah serta membimbing mental anak usia remaja. Workshop ini bekerja sebagai“mesin perubahan instant” maksudnya setelah mengikuti program ini anak didik akan berubah seketika menjadi anak yang lebih positif.

Sesi Seminar Khusus Orangtua Siswa, membantu orangtua mengenali anaknya dan memperlakukan anak dengan lebih baik, agar anak lebih sukses dalam kehidupannya. Dalam seminar ini orangtua akan mempelajari pengetahuan dasar yang sangat bagus untuk mempelajari berbagai teori psikologi anak dan keluarga. Memahami konsep menangani anak di rumah dan di sekolah, serta lebih mudah mengerti dan memahami jalan pikiran anak, pasangan dan orang lain.

Membangun Karakter Anak Sejak Usia Dini.

Karakter akan terbentuk sebagai hasil pemahaman 3 hubungan yang pasti dialami setiap manusia (triangle relationship), yaitu hubungan dengan diri sendiri (intrapersonal), dengan lingkungan(hubungan sosial dan alam sekitar), dan hubungan dengan Tuhan YME (spiritual). Setiap hasil hubungan tersebut akan memberikan pemaknaan/pemahaman yang pada akhirnya menjadi nilai dan keyakinan anak. Cara anak memahami bentuk hubungan tersebut akan menentukan cara anak memperlakukan dunianya. Pemahaman negatif akan berimbas pada perlakuan yang negatif dan pemahaman yang positif akan memperlakukan dunianya dengan positif. Untuk itu, Tumbuhkan pemahaman positif pada diri anak sejak usia dini, salah satunya dengan cara memberikan kepercayaan pada anak untuk mengambil keputusan untuk dirinya sendiri, membantu anak mengarahkan potensinya dengan begitu mereka lebih mampu untuk bereksplorasi dengan sendirinya, tidak menekannya baik secara langsung atau secara halus, dan seterusnya.

Biasakan anak bersosialisasi dan berinteraksi dengan lingkungan sekitar. Ingat pilihan terhadap lingkungan sangat menentukan pembentukan karakter anak. Seperti kata pepatah bergaul dengan penjual minyak wangi akan ikut wangi, bergaul dengan penjual ikan akan ikut amis. Seperti itulah, lingkungan baik dan sehat akan menumbuhkan karakter sehat dan baik, begitu pula sebaliknya. Dan yang tidak bisa diabaikan adalah membangun hubungan spiritual dengan Tuhan Yang Maha Esa. Hubungan spiritual dengan Tuhan YME terbangun melalui pelaksanaan dan penghayatan ibadah ritual yang terimplementasi pada kehidupan sosial.

Pendidikan Karakter dan revolusi mental Untuk Membangun Keberadaban Bangsa.

Dunia pendidikan diharapkan sebagai motor penggerak untuk memfasilitasi perkembangan karakter, sehingga anggota masyarakat mempunyai kesadaran kehidupan berbangsa dan bernegara yang harmonis dan demokratis dengan tetap memperhatikan sendi-sendi Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dan norma-norma sosial di masyarakat yang telah menjadi kesepakatan bersama. “Dari mana asalmu tidak penting, ukuran tubuhmu juga tidak penting, ukuran Otakmu cukup penting, ukuran hatimu itulah yang sangat penting” karena otak (pikiran) dan kalbu hati yang paling kuat menggerak seseorang itu ”bertutur kata dan bertindak”. Simak, telaah, dan renungkan dalam hati apakah telah memadai ”wahana” pembelajaran memberikan peluang bagi peserta didik untuk multi kecerdasan yang mampu mengembangkan sikap-sikap: kejujuran, integritas, komitmen,kedisipilinan,visioner,dankemandirian.Sejarah memberikan pelajaran yang amat berharga, betapa perbedaan, pertentangan, dan pertukaran pikiran itulah sesungguhnya yang mengantarkan kita ke gerbang kemerdekaan. Melalui perdebatan tersebut kita banyak belajar, bagaimana toleransi dan keterbukaan para Pendiri Republik ini dalam menerima pendapat, dan berbagai kritik saat itu. Melalui pertukaran pikiran itu kita juga bisa mencermati, betapa kuat keinginan para Pemimpin Bangsa itu untuk bersatu di dalam satu identitas kebangsaan, sehingga perbedaan-perbedaan tidak menjadi persoalan bagi mereka.

Karena itu pendidikan karakter dan revolusi mental harus digali dari landasan idiologi Pancasila, dan landasan konstitusional UUD 1945. Sejarah Indonesia memperlihatkan bahwa pada tahun 1928, ikrar “Sumpah Pemuda” menegaskan tekad untuk membangun nasional Indonesia. Mereka bersumpah untuk berbangsa, bertanah air, dan berbahasa satu yaitu Indonesia. Ketika merdeka dipilihnya bentuk negara kesatuan. Kedua peristiwa sejarah ini menunjukan suatu kebutuhan yang secara sosio-politis merefleksi keberadaan watak pluralisme tersebut. Kenyataan sejarah dan sosial budaya tersebut lebih diperkuat lagi melalui arti simbol “Bhineka Tunggal Ika” pada lambang Negara Indonesia.

Dari mana memulai dibelajarkannya nilai-nilai karakter bangsa dan revolusi mental, dari pendidikan informal, dan secara pararel berlanjut pada pendidikan formal dan nonformal. Tantangan saat ini dan ke depan bagaimana kita mampu menempatkan pendidikan karakter sebagai sesuatu kekuatan bangsa. Oleh karena itu kebijakan dan implementasi pendidikan yang berbasis karakter menjadi sangat penting dan strategis dalam rangka membangun bangsa ini. Hal ini tentunya juga menuntut adanya dukungan yang kondusif dari pranata politik, sosial, dan,budayabangsa
“Pendidikan Karakter dan revolusi mental Untuk Membangun Keberadaban Bangsa” adalah kearifan dari keaneragaman nilai dan budaya kehidupan bermasyarakat. Kearifan itu segera muncul, jika seseorang membuka diri untuk menjalani kehidupan bersama dengan melihat realitas plural yang terjadi. Oleh karena itu pendidikan harus diletakan pada posisi yang tepat, apalagi ketika menghadapi konflik yang berbasis pada ras, suku dan keagamaan. Pendidikan karakter dan revolusi mental bukanlah sekedar wacana tetapi realitas implementasinya, bukan hanya sekedar kata-kata tetapi tindakan dan bukan simbol atau slogan, tetapi keberpihak yang cerdas untuk membangun keberadaban bangsa Indonesia. Pembiasaan berperilaku santun dan damai adalah refreksi dari tekad kita sekali merdeka, tetap merdeka. (MuktionoWaspodo)

Keberhasilan Revolusi mental dan Pendidikan Karakter.

Manusia Indonesia harus berubah, daripada sekedar mengeluh, lebih baik fokus pada solusi. Dari malas-malasan menjadi giat bekerja, dari mudah menyerah menjadi pantang menyerah, dari berorientasi hasil menjadi berorientasi proses dan dari sekedar penonton menjadi pelaku. Manusia Indonesia harus berdaya dan maju. Untuk itu, dibutuhkan mentalitas baru dan kita harus menggelorakan revolusi mental

Kita harus menjadi manusia yang aktif, menjadi orang yang optimis, giat bekerja, tak mudah putus asa, bersedia menjalani proses demi keberhasilan yang hakiki menjadi pelaku. Revolusi mental bukan hal yang mustahil, revolusi mental bisa dan sangat bisa di terapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam hidup ini, kita tidak perlu malu membudayakan nilai nilai yang baik untuk mengembangkan potensi diri dalam rangka mengisi Pembangunan nasional Sebagai contoh Hiduplah Seperti Lebah Madu Banyak sekali yang bisa dipelajari manusia dari alam semesta ini. Satu di antara pelajaran berharga itu adalah kehidupan lebah madu. Hewan ini hidup di dunia mempunyai satu pekerjaan; memproduksi madu. Lantas, apa kaitan antara lebah madu dengan Revolusi Mental? Diatas disebutkan bahwa manusia bisa belajar pada kehidupan lebah madu. Setidaknya dari sisi mental atau sikap. Siapa sih yang nggak tahu madu. Selain rasanya manis, madu sangat berkhasiat buat tubuh manusia. Dengan kata lain, keberadaan lebah madu didunia ini sangat bermutu alias berkualitas tinggi. Hidupnya bermakna, bermanfaat dan terhormat. Tak hanya untuk lebah itu sendiri dan kelompoknya, tetapi juga untuk manusia

Mungkin banyak yang tidak tahu bagaimana lebah madu sukses membuat madu. Kuncinya sangat sederhana. Lebah madu punya 11 (sebelas) sikap alias mental yang selalu dijalankan dalam kehidupannya.

1) Kerja Tim
2) Jujur
3) Bersih
4) Khusyu​
5) Rajin​
6) Disiplin
7) Tanggung Jawab
8) Ikhlas​
9) Optimis
10) Bersyukur
11) Kasih Sayang
Penjelasan dari sebelas item diatas sebagai berikut :

1. Kerja Tim
Lebah madu selalu bekerja dalam tim yang sangat kompak. Ibarat jari tangan, ibu jari adalah lebah ratu. Sedangkan jari-jari lainnya adalah lebah jantan dan lebah pekerja. Masing-masing punya tugas berbeda-beda, tetapi tujuannya jelas: memproduksi madu.

a. Lebah ratu tugasnya bertelur
b. Lebah jantan tugasnya membuahi telur
c. Lebah pekerja tugasnya bekerja mencari tepung sari dan air manis pada tumbuh-tumbuhan.
2. Jujur
a. Lebah madu setia pada timnya. Tidak pernah keluar dari kelompoknya. Meski terbang kemana-mana, tetap kembali pada timnya (terus bersatu)
b. Lebah madu setia pada pekerjaannya. Baik lebah ratu, lebah jantan dan lebah pekerja. Masing-masing hanya melakukan pekerjaan sesuai tugasnya masing-masing, tidak ada yang lain.
c. Lebah madu sangat ramah lingkungan (tidak pernah merusak alam sekitar). Saat lebah pekerja mengambil tepung sari, lebah madu juga membantu proses bunga menjadi buah (mempertemukan tepung sari dengan putik bunga)
d. Pelajaran yang bisa di ambil: kejujuran sangat penting. Baik dalam pekerjaan dan lingkungan.

3. Bersih
a. Lebah madu itu bersih sekali, termasuk sarangnya.
b. Madu rasanya manis, tetapi semut dan lalat tidak mau mendekat.
c. Yang dimakan lebah madu bersih sekali. Sebab yang di konsumsi adalah tepung sari bunga dan air manis pada tumbuhan.
d. Pelajaran yang bisa di ambil: kebersihan sangat penting dalam kehidupan. Bukan hanya jiwa yang bersih. Fisik, tempat tinggal, makanan juga penting. Sesuatu yang halal, kekurangannya pun halal. Ini jadi pelajaran yang sangat penting bagi manusia.

4. Khuyu
a. Lebah madu sangat total (khusyu) dalam melaksanakan tugasnya. Mereka tidak mau main-main dalam memproduksi madu. Sehingga kecil sekali terjadi kesalahan dalam melaksanakan tugasnya.
b. Begitu khusyu mereka bekerja, maka hasilnya sangat optimal. Satu kelompok lebah madu (dengan 1 lebah ratu) bisa menghasilkan 2-4kg madu.
c. Harus fokus. Sehingga pekerjaan yang dihasilkan sempurna

5. Rajin
a. Lebah madu aktif dalam melaksanakan tugasnya masing-masing.
1. Lebah ratu aktif bertelur
2. Lebah jantan aktif membuahi telur
3. Lebah pekerja aktif bekerja mencari tepung sari dan air manis pada tumbuhan
b. Pelajaran yang bisa di ambil : jangan pernah menyia-nyiakan waktu. Sedikitpun sangat berharga.

6. Disiplin
a. Dalam bekerja lebah madu selalu melaksanakan tugasnya dengan baik, taat dan paham prosedur.
b. Pertama membuat sarang berbentuk segi empat berlubang dan saling berhubungan. Ini sebagai tempat bertelur lebah ratu dan madu.
c. Sarang lebah terus bertambah besar, seiring dengan bertambahnya telur dan madu. Sehingga lebah madu sukses memproduksi madu.
d. Pelajaran yang bisa di ambil : Disiplin dalam melakukan pekerjaanakan membuahkan hasil yang gemilang. Apapun pekerjaannya. Berusahalah disiplin dalam berbagai hal.

7. Tanggung Jawab
a. Lebah madu sangat profesional dalam bekerja.
b. Bila ada yang merusak atau mengambil sarang lebah madu, mereka pasti akan melawan secara bersama-sama. mereka berani mengambil resiko bersama-sama.
c. Pelajaran yang bisa diambil : bertanggung jawab pada pekerjaan adalah sesuatu yang sangat mutlak. Selain itu, manusia juga harus mampu menjadi kehormatan diri dan keluarganya.

8. Ikhlas
a. Lebah madu ikhlas menerima tuganya masing-masing (tidak pernah iri dan mengeluh). Bahkan, lebah madu ikhlas sarangnya di ambil manusia.
b. Pelajarang yang bisa di ambil : ikhlas dalam segala hal itu sangat mulia. Ikhlas memberi maupun menerima hal terburuk sekalipun dalam kehidupan. Termasuk kehilangan barang atau orang yang di sayangi.

9. Optimis
a. Lebah madu tidak pernah ragu-ragu dalam melaksanakan tugasnya. Terus berupanya, tidak mengenal putus asa, walau banyak rintangan dan halangan. Seperti hujan, angin dan menghadapi predator dan gangguan lain dalam rangka memproduksi madu.
b. Pelajaran yang bisa di ambil : optimis dan tidak ragu-ragu sangat penting dalam melakukan pekerjaan. Gangguan dan halangan bukan alasan untuk berputus asa.

10. Bersyukur
a. Lebah madu semua aktif dan produktif. Baik lebah ratu, lebah jantan, dan lebah pekerja. Semua bekerja pada tugasnya masing-masing dan tidak pernah berhenti sedetikpun. Kecuali pada waktu tidur (istirahat)
b. Semua dikerjakan tanpa pernah mengeluh sedikitpun. Bahkan saat mendapat musibah kehilangan sarang dan madunya, lebah madu menerimanya dengan ikhlas.
c. Semua di laksanakan dan diterima dengan penuh keceriaan dan kebahagiaan.
d. Pelajaran yang bisa di ambil : bersyukur atas apa yang di terima dalam kehidupan ini. Bersyukur diberi kesehatan, bersyukur masih di beri kesempatan hidup dan bersyukur atas riski yang diterima.

11. Kasih sayang
a. Lebah ratu dijaga lebah jantan dengan penuh ketekunan dan kesabaran. Ini dilakukan terus-menerus dan tidak mengenal lelah.
b. Bila makan lebah jangan disuapi oleh lebah pekerja.
c. Apabila mendapat makanan, lebah pekerja memberitahukan lebah pekerja lainnya dengan cara berputar-putar dekat sarang lebah.
d. Pelajaran yang bisa di ambil : kasih sayang dan perhatian adalah sesuatu yang luar biasa. Terlebih bila itu dilakukan dalam pekerjaan, komunitas dan lingkungan sekitar

Sikap mental yang ditunjukan oleh lebah madu diatas merupakan manifestasi dari Revolusi mental dan Pendidikan Karakter. Oleh kerana itu, kita sebagai manusia seharusnya tidak perlu malu mencontoh kehidupan lebah. Lebah tidak egois, mereka justru selalu kompak, mereka berani mengambil resiko bersama-sama. tidak pernah mengeluh, memiliki budi pekerti yang sangat luhur, istiqoma, rajin, disiplin, dan ikhlas dalam menjalani kehidupannya. Tidak hanya itu, perilaku hewan kecil ini sudah harusnya menjadi cerminan akhlak muslim sejati.

Begitu juga dengan kita sebagai manusia harus berani mengambil keputusan dan menghadapi segala resiko demi menggapai sebuah tujuan. Bila tujuan yang ingin kita capai bersifat “melawan arus” atau berbeda dari yang lain (dalam konteks yang positif), maka janganlah gentar. Menjadi berbeda memang tidak mudah dan lebih banyak tantangan yang harus kita hadapi. Tujuan kita akan semakin dekat jika kita berani menghadapi resiko tersebut. Berenang mengikuti arus memang mudah bahkan tak perlu mengeluarkan tenaga. Tapi, maukah kita seperti “ikan mati” yang nasibnya ditentukan oleh kemana arus mengalir. Banyak orang yang memilih hidupnya dengan mengikuti arus yang biasanya orang kebanyakan ikuti. Mereka tidak berani mengambil keputusan untuk melakukan hal berbeda, padahal mereka bisa jika mereka berani memutuskan Kita ambil saja contoh umum, ketika banyak orang melakukan mencontek, merokok, miras, menggunakan narkoba, free sex, tawuran, korupsi dan lain sebagainya, maka kita harus berani memutuskan untuk menjauhi hal-hal yang tidak baik disekitar kita tersebut. Untuk mencapai impian mulia kita, sebaiknya kita tidak menjadi orang medioker (orang-orang kebanyakan). Orang medioker meyakini bahwa dirinya hanyalah manusia biasa yang tidak memiliki kemampuan yang luar biasa. Alhasil, mereka tidak berani bermimpi dan melakukan hal-hal yang berbeda dari orang-orang lain. Sehingga mereka benar-benar menjadi biasa padahal sebenarnya banyak hal (potensi) luar biasa yang bisa mereka lakukan jika mereka berani menghadapi tantangan yang berbeda, Setelah kita berani mengambil keputusan dan bertindak (berihtiar) secara maksimal , hal bijak yang harus kita lakukan adalah menyerahkan semuanya kepada Allah Yang Maha Kuasa. Sebab Allah yang akan selalu menuntun arah hidup kita

Keberhasilan program Revolusi mental dan pendidikan karakter dapat diketahui melalui pencapaian indikator oleh peserta didik sebagaimana tercantum dalam Standar Kompetensi Lulusan SMP, yang antara lain sebagai berikut:

– Mengamalkan ajaran agama yang dianut sesuai dengan tahap perkembangan remaja.
– Memahami kekurangan dan kelebihan dirisendiri.
– Mematuhi aturan-aturan sosial yang berlaku dalam lingkungan yang lebih luas.
– Menghargai keberagaman agama, budaya, suku, ras, dan golongan sosial ekonomi dalam lingkup nasional.
– Menunjukkan sikap percaya diri.
– Mencari dan menerapkan informasi dari lingkungan sekitar dan sumber-sumber lain secara logis, kritis,dankreatif.
– Menunjukkan kemampuan berpikir logis, kritis, kreatif, dan inovatif.
– Menunjukkan kemampuan belajar secara mandiri sesuai dengan potensi yang dimilikinya.
– Menunjukkan kemampuan menganalisis dan memecahkan masalah dalam kehidupan sehari-hari.
– Mendeskripsikan gejala alam dan social.
– Memanfaatkan lingkungan secara bertanggungjawab.
– Menerapkan nilai-nilai kebersamaan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara demi terwujudnya persatuan dalam Negara kesatuan Republik Indonesia.
– Menghargai karyaseni dan budayanasional.
– Menghargai tugas pekerjaan dan memiliki kemampuan untuk berkarya.
– Menerapkan hidup bersih, sehat, bugar, aman, dan memanfaatkan waktu luang dengan baik.
– Berkomunikasi dan berinteraksi secara efektif dansantun.
– Memahami hak dan kewajiban diri dan orang lain dalam pergaulan di masyarakat;
– Menghargai adanyaperbedaanpendapat.
– Menunjukkan kegemaran membaca dan menulis naskah pendek sederhana.
– Menunjukkan keterampilan menyimak, berbicara, membaca, dan menulis dalam bahasa Indonesia dan bahasa Inggris sederhana.
– Menguasai pengetahuan yang diperlukan untuk mengikuti pendidikan menengah.
– Memiliki jiwa kewirausahaan.
– Menunjukkan sikap percaya diri.
– dll
Pada tataran sekolah, kriteria pencapaian pendidikan karakter adalah terbentuknya budaya sekolah, yaitu perilaku, tradisi, kebiasaan keseharian, dan simbol-simbol yang dipraktikkan oleh semua warga sekolah, dan masyarakat sekitar sekolah harus berlandaskan nilai-nilai tersebut.

Dari pembahasan di atas penulis dapat menyimpulkan beberapa kategori yaitu:

Bangsa Indonesia telah berusaha untuk meningkatkan kesesuaian dan mutu pendidikan karakter melalui sekolah-sekolah, terutama Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP), karena anak usia SLTP sangat cocok untuk diberi pembelajaran tentang pendidikan karakter.

Guru adalah orang tua para siswa. Karenanya, Rasulullah melarang para orangtua (guru) mendoakan keburukan bagi anak-didiknya. Mendoakan keburukan kepada anak merupakan hal yang berbahaya. Dapat mengakibatkan kehancuran anak dan masa depannya.

Pendidikan karakter bertujuan untuk meningkatkan mutu penyelenggaraan dan hasil pendidikan di sekolah yang mengarah pada pencapaian pembentukan karakter dan akhlak mulia peserta didik secara utuh, terpadu, dan seimbang.

Bila pendidikan karakter telah mencapai keberhasilan, tidak diragukan lagi kalau masa depan bangsa Indonesia ini akan mengalami perubahan menuju kejayaan. Dan bila pendidikan karakter ini mengalami kegagalan sudah pasti dampaknya akan sangat besar bagi bangsa ini, negara kita akan semakin ketinggalan dari negara-negara lain. Penulis adalah Mahasiswa Doktoral Manajemen Pendidikan Universitas Negeri Jakarta.

banner 468x60

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Tinggalkan Balasan