Kota Wisata Sabang Pada Siang Hari Bagaikan Kota Mati

Sabang, AP-Sebaiknya Pemerintah Kota (Pemko) Sabang, sudah bisa membuang kebiasaan lama yang akan ber-imeg buruk bagi perkembangan pariwisata. Dimana selama ini toko dan pedagang enggan membuka usahanya sehari penuh, sehingga kerap pendatang sulit mendapat makanan dan kebutuhan lainnya.

Menurut cerita dulu ketika Sabang masih diberlakukan sebagai kawasan Pelabuhan Bebas dan Perdagangan Bebas (Free Port), dari tahun 1960-an sampai berakhir pada tahun 1986 silam, masyarakat bekerja pada malam hari termasuk para pedagang untuk, mengurus barang-barang dagangannya.

Sedangkan pada siang hari mereka tidur dan sore harinya bekerja kembali, di toko-toko dan gudang-gudang yang ada dipusat Kota Sabang. Nah, setelah Free Port Sabang  ketika itu dikelola KP4BS , dipindahkan pemerintah pusat dari Sabang ke Batam kepulauan Riau kebiasaan tersebut terus berlanjut sampai sekarang.

Dengan ditetapkan Sabang selain sebagai pintu ekonomi sumatera bagian barat, yang kini dikelola Badan Pengusahaan Kawasan Sabang (BPKS), Sabang juga telah ditetapkan sebagai kawasan tujuan wisata nasional bahkan internasional, sudah tidak selayaknya pedagang menutup usahanya pada siang hari.

Hal tersebut akan berdampak pada imeg tidak baik, bagi turis lokal atau manca negara ke Sabang. Terutama, pada saat libur panjang dimana Sabang selalu menjadi pilihan pengunjung yang berwisata ke palau, yang terkenal dengan keindahan bawah lautnya itu.

Sejumlah turis dalam negeri mengeluh, mereka yang sudah beberapa kali berlibur ke Sabang, terkendala terhadap makan khususnya makan siang. Pasalnya, pukul 12.00 sampai pukul 17.00 wib, toko disepanjang jalan Perdagangan pusat Kota Sabang tutup semua.

Kalau pun ada yang buka hanya lah beberapa warung nasi, itu pun dikala pengunjung lagi ramai kerap kami pendatang tidak kedapatan nasi. Untuk itu, seandainya pedagang dipusat Kota Sabang, dapat membuang kebiasa lama itu, maka imeg tak baik dipastikan tidak akan muncul.

Kepada instansi terkiat perlu dilakukan evaluasi, terhadap kebiasaan tersebut agar, program wisata internasional yang dicutus akan berjalan. Kalau tidak, salah satu alasan lambannya perkembangan wisata Sabang adalah, kondisi kota yang terkesan tidak ikut mendukung pariwisata.(Jalaluddin Z.Ky))

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *