PKI Biadab Sukarno Memuja

JAKARTA | Kekejaman dan beragam kejahatan yang dilakukan penganut paham komunis di Indonesia telah tercatat di hati bangsa Indonesia. Mereka melakukan pembantaian terhadap ulama dan santri bukan satu dua kali.

Dalam setiap aksi, mereka tak pernah ketinggalan menggunakan jasa media massa, sehingga mereka dengan mudah mencuci otak anak bangsa dan menebar kebohongan dan fitnah yang merugikan lawan politik mereka.

Maka tak heran, ajaran komunis dan partai mereka, PKI (Partai Komunis Indonesia) menjadi bahaya laten dan terlarang di bumi Nusantara. Apalagi akhir akhir ini, mulai muncul para pengguna kaos bersimbol palu arit. Anehnya, kehadiran mereka seperti dibiarkan.

Berikut beragam kejahatan kelompok komunis yang berhasil dicatat dalam sejarah bangsa;

Pada Tanggal 31 Oktober 1948, pimpinan PKI, Muso dieksekusi di Desa Niten Kecamatan Sumorejo Kabupaten Ponorogo. Sedang MH. Lukman dan Nyoto berhasil melarikan diri dan ke pengasingan di Republik Rakyat China (RRC).

Tak lama berselang, akhir November 1948, seluruh pimpinan PKI Muso berhasil dibunuh atau ditangkap. Imbasnya, seluruh daerah yang semula dikuasai PKI berhasil direbut, antara lain, Ponorogo, Magetan, Pacitan, Purwodadi, Cepu, Blora, Pati, Kudus, dan lainnya.

PKI memang tak tahu diri, saat Indonesia sedang berperang dengan penjajah Belanda dan sekutu, mereka tetap mengganggu. Termasuk agresi militer Belanda kedua ke Yogyakarta, 19 Desember 1948.

Parahnya, Presiden Sukarno, pria yang selalu mengagungkan diri sosok nasionalis pancasilais, tetap membiarkan PKI hidup dan tumbuh di tanah para aulia. Hingga tahun 1949, Sukarno tetap saja membiarkan PKI bergerak, sehingga tahun 1949 dilakukan rekontruksi PKI dan tetap tumbuh berkembang hingga tahun 1965.

Pada awal Januari 1950, Pemerintah RI dengan disaksikan puluhan ribu masyarakat yang datang dari berbagai daerah seperti Magetan, Madiun, Ngawi, Ponorogo dan Trenggalek, melakukan pembongkaran 7 (tujuh) sumur “neraka” PKI dan mengidentifikasi para korban. Di sumur “neraka” Soco I ditemukan 108 kerangka mayat yang 68 dikenali dan 40 tidak dikenali, sedang di sumur “Neraka” Soco II ditemukan 21 kerangka mayat yang semuanya berhasil diidentifikasi. Para Korban berasal dari berbagai kalangan ulama dan umara serta tokoh masyarakat.

Tak berhenti, PKI malah kembali berulah. Beragam kekejaman mereka lakukan lagi, pada tahun 1950, PKI memulai kembali kegiatan penerbitan Harian Rakyat dan Bintang Merah.

Usai menerbitkan Harian Rakyat dan Bintang Merah, Tanggal 6 Agustus 1951, Gerombolan Eteh dari PKI menyerbu Asrama Brimob di Tanjung Priok dan merampas semua senjata api yang ada.

Kemudian di tahun yang sama, Dipa Nusantara Aidit atau akrab dipanggil DN Aidit, memimpin PKI sebagai Partai Nasionalis yang sepenuhnya mendukung Presiden Soekarno. Sikap PKI itu disukai Soekarno, lalu Lukman dan Nyoto pun kembali dari pengasingan untuk membantu DN Aidit membangun kembali PKI.

Selang beberapa tahun lamanya, tepatnya di Tahun 1955, PKI ikut pemilu pertama di Indonesia dan berhasil masuk empat besar setelah MASYUMI, PNI dan NU.

Melihat PKI makin membesar dan sangat membahayakan kelangsungan ideologi Pancasila, pada Tanggal 8-11 September 1957, tokoh Islam menggelar Kongres Alim Ulama Seluruh Indonesia di Palembang–Sumatera Selatan. Hasilnya, para ulama mengharamkan ideologi Komunis dan mendesak Presiden Soekarno untuk mengeluarkan Dekrit Pelarangan PKI dan semua mantel organisasinya. Namun anehnya, usulan tersebut ditolak mentah mentah oleh Soekarno.

Setahun kemudian, tepatnya di Tahun 1958, kedekatan Soekarno dengan PKI mendorong kelompok anti PKI di Sumatera dan Sulawesi melakukan koreksi hingga melakukan pemberontakan terhadap Soekarno. Sukarno marah dan saat itu MASYUMI dituduh terlibat, karena MASYUMI merupakan musuh besar PKI.

Pada Tanggal 15 Februari, para pemberontak di Sumatera dan Sulawesi kemudian mendeklarasikan Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia (PRRI), namun Pemberontak kan ini berhasil dikalahkan dan dipadamkan.

PKI makin besar kepala, pada Tanggal 11 Juli 1958, DN Aidit dan Rewang mewakili PKI ikut Kongres Partai Persatuan Sosialis Jerman di Berlin.

Bulan Agustus 1959, TNI berusaha menggagalkan Kongres PKI, namun kongres tersebut tetap berjalan karena ditangani sendiri oleh Presiden Soekarno.

Tahun 1960, Soekarno meluncurkan slogan NASAKOM (Nasional, Agama dan Komunis) yang didukung penuh oleh PNI, NU dan PKI. Dengan demikian PKI kembali terlembagakan sebagai bagian dari Pemerintahan RI.

Tanggal 17 Agustus 1960, atas desakan dan tekanan PKI, terbitlah Keputusan Presiden RI Nomor 200 Tahun 1960 tertanggal 17 Agustus 1960 tentang “Pembubaran MASYUMI (Majelis Syura Muslimin Indonesia)” dengan dalih tuduhan keterlibatan Masyumi dalam Pemberotakan PRRI, padahal hanya karena anti NASAKOM.

Medio Tahun 1960, Departemen Luar Negeri AS melaporkan bahwa PKI semakin kuat dengan keanggotaan mencapai 2 Juta orang. Dan di bulan Maret 1962, PKI resmi masuk dalam Pemerintahan Soekarno, DN Aidit dan Nyoto diangkat oleh Soekarno sebagai Menteri Penasehat.

Bulan April 1962 : Kongres PKI

Usai kongres, Tahun 1963, PKI kembali memprovokasi Presiden Soekarno untuk konfrontasi dengan Malaysia, dan mengusulkan dibentuknya “Angkatan Kelima” yang terdiri dari buruh dan tani untuk dipersenjatai dengan dalih “Mempersenjatai Rakyat untuk Bela Negara” melawan Malaysia.

Atas desakan dan tekanan PKI terbit Keputusan Presiden RI Nomor 139 Tahun 1963 tertanggal 10 Juli 1963 tentang Pembubaran GPII (Gerakan Pemuda Islam Indonesia), lagi-lagi hanya karena ANTI NASAKOM.

Lagi, atas desakan dan tekanan PKI, 10 Juli 1963, terjadi penangkapan tokoh-tokoh Masyumi dan GPII serta Ulama Anti PKI, antara lain : KH.Buya Hamka, KH.Yunan Helmi Nasution, KH. Isa Anshari, KH. Mukhtar Ghazali, KH. EZ. Muttaqien, KH. Soleh Iskandar, KH. Ghazali Sahlan dan KH. Dalari Umar.

Bulan Desember 1964, Chaerul Saleh pimpinan Partai MURBA (Musyawarah Rakyat Banyak) yangg didirikan oleh mantan Pimpinan PKI, Tan Malaka, menyatakan bahwa PKI sedang menyiapkan KUDETA.

Kemudian, Tanggal 6 Januari 1965, atas desakan dan tekanan PKI terbit Surat Keputusan Presiden RI No.1/KOTI/1965 tertanggal 6 Januari 1965 tentang PEMBEKUAN PARTAI MURBA, dengan dalih telah memfitnah PKI.

Keperkasaan PKI makin menjadi jadi, Tanggal 13 Januari 1965, dua sayap PKI yaitu PR (Pemuda Rakyat) dan BTI (Barisan Tani Indonesia) menyerang dan menyiksa peserta training PII (Pelajar Islam Indonesia) di Desa Kanigoro Kecamatan Kras Kabupaten Kediri, sekaligus melecehkan pelajar wanitanya, dan juga merampas sejumlah Mushaf Al-Qur’an dan merobek serta menginjak-injaknya.

Awal Tahun 1965, PKI dengan 3 Juta anggota menjadi Partai Komunis terkuat di luar Uni Soviet dan RRT. PKI memiliki banyak Ormas, antara lain : SOBSI (Serikat Organisasi Buruh Seluruh Indonesia), Pemuda Rakjat, Gerwani, BTI (Barisan Tani Indonesia), LEKRA (Lembaga Kebudayaan Rakjat) dan HSI (Himpunan Sardjana Indonesia).

Kemudian, Tanggal 14 Mei 1965, tiga sayap organisasi PKI yaitu PR, BTI dan GERWANI merebut Perkebunan Negara di Bandar Betsi, Pematang Siantar, Sumatera Utara, dengan menangkap dan menyiksa serta membunuh Pelda Soedjono penjaga PPN (Perusahaan Perkebunan Negara) Karet IX Bandar Betsi.

Tak cukup disitu saja, Bulan Juli 1965, PKI menggelar pelatihan militer untuk 2000 anggotanya di Pangkalan Udara Halim dengan dalih ”Mempersenjatai Rakyat untuk Bela Negara”.

PKI kembali berhasil melalui provokasi, Tanggal 21 September 1965, atas desakan dan tekanan PKI terbit Keputusan Presiden RI Nomor 291 Tahun1965 tertanggal 21 September 1965 tentang PEMBUBARAN PARTAI MURBA, karena sangat memusuhi PKI.

Selanjutnya, pada 30 September 1965 Pagi, Ormas PKI Pemuda Rakjat dan Gerwani menggelar Demo Besar di Jakarta.

Malam 30 September 1965. Aksi puncak kekejaman PKI terjadi, atau kita kenal Gerakan G30S/PKI atau disebut juga GESTAPU (Gerakan September Tiga Puluh). PKI menculik dan membunuh 6 (enam) Jenderal Senior TNI AD di Jakarta dan membuang mayatnya ke dalam sumur di Lubang Buaya Halim, mereka adalah : Jenderal Ahmad Yani, Letjen R.Suprapto, Letjen MT.Haryono, Letjen S.Parman, Mayjen Panjaitan dan Mayjen Sutoyo Siswomiharjo. PKI juga menculik dan membunuh Kapten Pierre Tendean karena dikira Jenderal Abdul Haris Nasution. PKI pun membunuh AIP KS Tubun seorang Ajun Inspektur Polisi yg sedang bertugas menjaga rumah kediaman Wakil PM Dr.J.Leimena yang bersebelahan dengan rumah Jenderal AH.Nasution. PKI juga menembak putri bungsu Jenderal AH. Nasution yang baru berusia 5 (lima) tahun, Ade Irma Suryani Nasution, yang berusaha menjadi Perisai Ayahandanya dari tembakan PKI, kemudian ia terluka tembak dan akhirnya wafat pada tanggal 6 Oktober 1965.

G30S/PKI dipimpin oleh Letnan Kolonel Untung yang membentuk tiga kelompok gugus tugas penculikan, yaitu Pasukan Pasopati dipimpin Lettu Dul Arief, dan Pasukan Pringgondani dipimpin Mayor Udara Sujono, serta Pasukan Bima Sakti dipimpin Kapten Suradi. Selain Letkol Untung dan kawan-kawan, PKI didukung oleh sejumlah Perwira ABRI (TNI/Polri) dari berbagai Angkatan, antara lain : Angkatan Darat : Mayjen TNI Pranoto Reksosamudro, Brigjen TNI Soepardjo dan Kolonel Infantri A. Latief. Angkatan Laut : Mayor KKO Pramuko Sudarno, Letkol Laut Ranu Sunardi dan Komodor Laut Soenardi. Angkatan Udara : Men/Pangau Laksda Udara Omar Dhani, Letkol Udara Heru Atmodjo dan Mayor Udara Sujono. Kepolisian : Brigjen Pol. Soetarto, Kombes Pol. Imam Supoyo dan AKBP Anwas Tanuamidjaja.

Kekejaman tak berhenti, Tanggal 1 Oktober 1965, PKI di Yogyakarta juga membunuh Brigjen Katamso Darmokusumo dan Kolonel Sugiono. Lalu di Jakarta PKI mengumumkan terbentuknya Dewan Revolusi baru yang telah mengambil alih kekuasaan.

Indonesia masih beruntung, pada Tanggal 2 Oktober 1965, Letjen TNI Soeharto mengambil alih kepemimpinan TNI dan menyatakan kudeta PKI gagal dan mengirim TNI AD menyerbu dan merebut Pangkalan Udara Halim Perdanakusuma dari PKI.

Anehnya, Tanggal 6 Oktober 1965, Presiden Soekarno menggelar pertemuan kabinet dan Menteri PKI ikut hadir serta berusaha melegalkan G30S, tapi ditolak, bahkan Terbit Resolusi Kecaman terhadap G30S, lalu usai rapat Nyoto pun langsung ditangkap.

Dulu NU kompak dengan konsep NASAKOM, namun Tanggal 13 Oktober 1965, Ormas Anshor NU gelar aksi unjuk rasa Anti PKI di Seluruh Jawa.

Akal bulus PKI tak pernah henti, Tanggal 18 Oktober 1965, PKI menyamar sebagai Anshor Desa Karangasem (kini Desa Yosomulyo) Kecamatan Gambiran, lalu mengundang Anshor Kecamatan Muncar untuk Pengajian. Saat Pemuda Anshor Muncar datang, mereka disambut oleh Gerwani yang menyamar sebagai Fatayat NU, lalu mereka diracuni, setelah keracunan mereka dibantai oleh PKI dan jenazahnya dibuang ke Lubang Buaya di Dusun Cemetuk Desa/Kecamatan Cluring Kabupaten Banyuwangi. Sebanyak 62 (enam puluh dua) orang Pemuda Anshor yang dibantai, dan ada beberapa pemuda yg selamat dan melarikan diri, sehingga menjadi saksi mata peristiwa. Peristiwa tragis itu disebut Tragedi Cemetuk, dan kini oleh masyarakat secara swadaya dibangun Monumen Pancasila Jaya.

Sejak Tanggal 19 Oktober 1965, Anshor NU dan PKI mulai bentrok di berbagai daerah di Jawa. Dan pada Tanggal 11 November 1965,  PNI dan PKI bentrok di Bali.

Kemudian, Tanggal 22 November 1965, DN Aidit ditangkap dan diadili serta di Hukum Mati.  Bulan Desember 1965, Aceh dinyatakan telah bersih dari PKI. Aceh adalah daerah pertama yang berhasil membersihkan PKI.

Selanjutnya, Sukrno pun sadar, Tanggal 11 Maret 1966,  terbit Surat Perintah Sebelas Maret (Supersemar) dari Presiden Soekarno yang memberi wewenang penuh kepada Letjen TNI Soeharto untuk mengambil langkah pengamanan negara RI.

Berkat mandat tersebut, Tanggal 12 Maret 1966, Soeharto melarang secara resmi PKI. Bulan April 1966, Soeharto melarang Serikat Buruh Pro PKI yaitu SOBSI. Terus, Tanggal 13 Februari 1966, Bung Karno masih tetap membela PKI, bahkan secara terbuka di dalam pidatonya di muka Front Nasional di Senayan mengatakan, ”di Indonesia ini tidak ada partai yang pengorbanannya terhadap Nusa dan Bangsa sebesar PKI”.

Meski dibela Sukarno, Tanggal 5 Juli 1966, terbit TAP MPRS No.XXV Tahun 1966 yang ditanda-tangani Ketua MPRS–RI Jenderal TNI AH.Nasution tentang Pembubaran PKI dan Pelarangan penyebaran Paham Komunisme, Marxisme dan Leninisme.

Bulan Desember 1966, Sudisman mencoba menggantikan Aidit dan Nyoto untuk membangun kembali PKI, tapi ditangkap dan dijatuhi Hukuman Mati pada tahun 1967.

Tahun 1967, sejumlah kader PKI seperti Rewang, Oloan Hutapea dan Ruslan Widjajasastra, bersembunyi di wilayah terpencil di Blitar Selatan bersama Kaum Tani PKI. Bulan Maret 1968, Kaum Tani PKI di Blitar Selatan menyerang para Pemimpin dan Kader NU, sehingga 60 (enam puluh) orang NU tewas dibunuh.

Pertengahan 1968, TNI menyerang Blitar Selatan dan menghancurkan persembunyian terakhir PKI. Dari tahun 1968 s/d 1998 Sepanjang Orde Baru secara resmi PKI dan seluruh mantel organisasiya dilarang di Seluruh Indonesia dengan dasar TAP MPRS No.XXV Tahun 1966. Dari tahun 1998 s/d 2015.

Pasca Reformasi 1998, pimpinan dan anggota PKI yang dibebaskan dari penjara, beserta keluarga dan simpatisanya yang masih mengusung ideologi komunis, justru menjadi pihak paling diuntungkan, sehingga kini mereka merajalela melakukan aneka gerakan pemutar balikkan fakta sejarah dan memposisikan PKI sebagai pahlawan Pejuang Kemerdekaan RI.

Sejarah kekejaman PKI yang sangat panjang, dan jangan dibiarkan mereka menambah lagi daftar kekejamanya di negeri tercinta ini..

Semoga Allah SWT senantiasa melindungi kita semua. Amin. (Dari Beragam Sumber).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *