Di Aceh Singkil, Sejumlah Bangunan Pemerintah Tak Difungksikan

Singkil|AP-Sejumlah bangunan dan fasilitas pemerintahan di Aceh Singkil seperti pendapa baru bupati yang dibangun BRR, bangunan rumah adat Aceh Singkil di Pulo Sarok, maupun gedung pemerintahan yang lokasinya bersebelahan dengan gardu PLN Singkil dilaporkan terbengkalai dan tidak difungsikan secara optimal.

Kejadian terbengkalainya bangunan dan fasilitas pemerintahan yang dibangun dengan dana baik yang bersumber dari APBK maupun APBA dan APBN tersebut dinilai sebagai bentuk ketidakmampuan daerah melakukan konsolidasi dan perencanaan anggaran agar pemanfaatan fasilitas yang dibangun menggunakan dana rakyat terjadi secara efektif dan tak terkesan mubajir.

Pandangan tersebut disampaikan pengamat kebijakan Aceh Singkil, Mustafa Naibaho kepada atjehpress.com, Jumat (14/6).

Mustafa mengungkapkan, meski tidak difungsikan namun setiap tahunnya kas daerah berpotensi terkuras membiayai kebutuhan perawatan setiap bangunan yang terbengkalai itu. Sementara, sambungnya, kondisi perekonomian sebahagian besar masyarakat Aceh Singkil berada pada ambang kemiskinan dan membutuhkan perhatian lebih.

“Harusnya pemerintah Aceh Singkil tidak boleh membiarkan ada satu bangunan pun yang tidak berfungsi. Semua harus dicarikan solusinya agar melahirkan kemanfaatan dan tidak justru menambah kerugian daerah,” ujar mantan aktifis mahasiswa ini.

Mustafa berpandangan, pemerintah kabupaten Aceh Singkil, baik eksekutif maupun legislatif, perlu sesegera mungkin melakukan re-orientasi dalam pemanfaatan setiap potensi daerah agar ditujukan untuk tujuan mensejahterakan rakyat. Menurutnya, selama ini pemerintah cenderung menghabiskan lebih banyak anggaran untuk kebutuhan insfrastruktur saja padahal banyak bangunan yang sudah dibangun justru tidak dipergunakan.

 “Kalau mau kreatif, bangunan rumah adat Aceh singkil yang bersebelahan dengan pendapa bupati lama itu kan bisa dijadikan sebagai salah satu situs cagar budaya dan adat istiadat Aceh Singkil, kemudian diisi dengan benda-benda tertentu yang bernilai seni atau punya catatan sejarah tertentu sehingga mengundang minat pengunjung, baik lokal maupun dari luar Aceh Singkil,” kata Mustafa menyarankan.

Dengan demikian, lanjutnya lagi, secara otomatis akan menumbuhkan capital inflow bagi perekonomian masyarakat Aceh Singkil. Mustafa menginginkan masukannya tersebut memperoleh respon positif pemerintah setempat dan mendorong agar Dinas Parisiwata Aceh Singkil mengadopsi ide yang disampaikannya.

Tidak becus

Pernyataan hampir senada juga diutarakan Abdul Ghafur, salah satu tokoh muda Aceh Singkil ini, secara terpisah menyebutkan, banyak bangunan dan fasilitas pemerintahan yang tidak dimanfaatkan dengan baik dan dibiarkan mubazir tanpa perhatian serius. Ia menilai pemerintah daerah tidak memiliki visi yang jelas dalam pengelolaan setiap aset dan potensi yang dimiliki daerah.

Ghafur menuturkan, pembiaran yang terjadi pada beberapa bangunan milik pemerintah kabupaten Aceh Singkil seperti gedung yang ada di Desa Selok Aceh, gedung di kawasan Anak Laut (dulu kantor arsip) serta bangunan Islamic Center yang ada di kecamatan Suro merupakan kesalahan besar yang terus menerus terjadi sejak dulu hingga pemerintahan saat ini.

Menurutnya, jajaran pemerintahan di Aceh Singkil khususnya Dinas Pengelolaan Keuangan dan Kekayaan Daerah (DPKKD) samasekali tidak becus mengurusi aset-aset yang dimiliki daerah termasuk dalam merumuskan anggaran agar tidak hanya dihabiskan untuk membangun infrastruktur yang minim manfaat.

“Padahal sudah sejak dulu dinas ini dipimpin orang yang sama namun persoalan yang sama tetap masih belum terselesaikan,” sergahnya, Sabtu (15/6).

Gafur mendesak Bupati Aceh Singkil mengambil langkah strategis dengan sesegera mungkin melakukan evaluasi dan pembenahan terhadap sistim yang macet di tubuh pemerintahannya. “Ini catatan besar bagi Bupati agar di tahun-tahun mendatang pengelolaan potensi di daerah ini tidak hanya merugikan daerah tetapi mampu terlaksana secara efektif untuk kemajuan dan kemakmuran masyarakat,” tutup Abdul Ghafur. (mn/red)a

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *